Cara Rakyat Kecil Memeriahkan Kemerdekaan RI, Walau Dibodohi Rakyat Kecil Tetap Diam !!


Rasa haru melihat seluruh rakyat Indonesia merah putih lahir batin. Hal tersebut ditandai dengan kekompakan seluruh lapisan masyarakat untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80Tahun 2025. Tradisi memperingati HUT RI begitu banyak cara, yang penting merah putih dan Merdeka. 

Di mulai dari kebiasaan bulan Juli anak anak masuk sekolah, hingga Agustus awal biasanya di jalan jalan sudah banyak latihan baris berbaris. Dilanjutkan dengan lomba mulai dengan lomba baris berbaris, lomba Karnaval TK, Karnafal SD, Karnafal SMP, Karnafal SMA bahkan sampai Karnafal umum.

Memasuki malam 17 Agustus, seluruh lapisan masyarakat apapun profesinya menyiapkan berkat untuk kondangan ( doa bersama) di halaman rumah ketua RT atau di jalan desa atau kelurahan. Bagi para pejabat mulai dari balai desa desa, kantor kecamatan, pendopo kabupaten bahkan sampai propinsi 

Seluruh lapisan masyarakat memiliki cara masing masing untuk mencintai Indonesia. Mereka tidak pernah berfikir serius tentang PBB naik, anggaran negara di korupsi, gaji anggota DPR-RI naik atau bahkan kebijakan politik presiden idola Prabowo sangat populis Mensejahterakan  rakyat dengan menghapus tantiem, manikam anggaran pendidikan full 20 % dari APBN, menaikan anggaran MBG maksimal dan banyak kebijakan lain yang fokus Mensejahterakan rakyat. 

Rakyat kecil mencintai Indonesia dengan caranya yang sangat sederhana, penuh keihlasan dan memakai uang sendiri bukan dari APBD atau APBN. Rakyat mencintai Indonesia dengan setulus hati, walau ada yang belum menikmati kemerdekaan sepenuhnya, karena dijajah oleh para penguasa yang ingin mendapatkan jabatan dengan segala macam cara. 

Disebuah negeri antah-berantah seluruh proyek APBD akan dikuasai dan kerjakan oleh kelompoknya karena untuk mengembalikan utang Pilkada. Rakyat negeri itu pada gelisah karena kue yang biasanya dibagi rata akan dimainkan dengan lelang terbuka katanya !! 

Sebuah ironi, bagaimana sebuah kekuasaan menghalalkan segala acara demi uang uang dan uang. Rakyat diam bukan berarti bodoh, karena rakyat pemilik modal, maka yang berkuasa harus berhati hati. 

Kasus kenaikan PBB Kabupaten Pati adalah sebuah contoh nyata jika rakyat sudah marah, Bupati tinggal menunggu waktu untuk diberhentikan oleh DPRD karena dianggap melanggar peraturan perundang undangan. Namun ketika anggota DPRD masuk angin, maka yang tahu hanya rumput yang bergoyang. 

Komitmen rakyat kecil ber Indonesia memang tidak ada duanya, karena mereka merasa hidup aman nyaman dan bahagia dalam kemerdekaan. Rakyat kecil hanya berfikir pagi sampai sore  bekerja, malam istirahat. Besok pagi badan sehat kembali siap bekerja sambil menanyakan apakah anaknya yang sekolah SMA ada iuran untuk sekolah. 

Lagi lagi sebagai rakyat yang sederhana, dia hanya mendengarkan dari tetangga sebelah, iuran yang harus dibayar sebagai kewajiban siswa baru, walau di TV sering disiarkan kalau sekolah gratis. Karena anaknya sekolah di SMA favorit beli seragam walaupun tidak diwajibkan harus bayar mendekati satu juta. 

Beberapa waktu yang lalu wali murid rapat dengan Komite dan kepala sekolah ditegaskan bahwa SMA tersebut tidak ada uang SPP, tapi yang ada hanya sumbangan dan bantuan. Penggalangan Dana Komite sumbangan bersifat ikhlas, tidak memaksa, bersifat sukarela, tidak mengikat, tidak ditentukan jumlahnya, tetapi ada nominal 2,500.000 bayar di depan. 

Sebuah cerita bagaimana rakyat mencintai Indonesia dengan cara sendiri, diam, berfikir, melakukan dengan diam walau penuh kekecewaan. Entah sampai kapan drama Korea tersebut akan berakhir. 

Semua rakyat sepakat dan membuktikan bagaimana cara mencintai Indonesia pada HUT Republik Indonesia ke 80 Tahun. Semoga seluruh rakyat diberi kesabaran dan tetap semangat menjalani kenyataan hidup. 

HM Basori M.Si 

Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, and Advocasy

Komentar

    Belum ada komentar

Tinggalkan komentar