Anak ibarat kertas putih yang belum ada catatan apapun, begitulah kata Jhon Locke seorang filosuf Inggris. Dari ungkapan tersebut seorang anak yang dalam posisi masih suci dan bersih tinggal bagaimana orang tua akan membuat catata atau pola sebuah gambar yang dikehendaki.
Namun tahukah Anda sebagian besar orang tua mendidik anak agar cerdas, pintar mendapatkan pekerjaan mapan dan kaya. Anak yang didik dengan kecerdasan tanpa disertai nurani yang baik maka akan mengedepan otak dan menipisnya perasaan.
Mendidik anak dengan kebahagiaan adalah memberikan perhatian,Kasih sayang dan lingkungan yang positif. Mendidik anak dengan kebahagiaan melahirkan generasi Islami dan mengutamakan norma dari pada logika
Mendidik anak menjadi kaya berdampak pada sikap selalu berfikir untung dan untung. Semua yang dilakukan berfikir profit untuk dirinya sendiri.
Suksesnya anak karena dari kecil karakter mereka kita bentuk. Keseimbangan hati dan fikiran dalam membentuk melahirkan keseimbangan dalam hidup. Jika anak dalam kesuksesan mereka akan memiliki sifat sakho’ ( dermawan ), jika dalam keterangan mereka akan selalu sabar dan tawakal.
Akhlaq anak terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan berulang ulang sehingga menjadi sebuah kepribadian. Anak jangan terlalu diikuti kemauannya ketika sudah keluar dari konsep yang sudah kita bangun dari awal. Prinsip harus memukul ketika dewasa dalam urusan ketaatan pada Allah menjadi pedoman pokok.
Anak kita adalah kebahagiaan kita ketika kita nanti memasuki usia tua. Maka tanaman kebaikan pada anak akan membuahkan cinta dan kasih sayang ketika kita tua. Konsep pendidikan Lukmanul Hakim dalam Al Qur’an yang mengajarkan perkataan pada perbuatan anak kepada orang tua dan Allah adalah sebuah pedoman utama dalam hidup.
Jangan pernah berfikir akan memanen jika anda tidak pernah menanam dengan baik. Anak juga harus ingat kalau perjuangan dan kebaikan orang tua ketika masih kecil wajib dibalas ketika mereka dewasa. Sebuah catatan sederhana semoga mencerahkan !!
Belum ada komentar