Aku memanggil dengan sebutan pak Dar, nama lengkapnya adalah Sudarmadi. Guru kelas 5 dan 6 SD disebuah desa di desa Cengkok Kec Ngronggot Kab Nganjuk di tahun 80 an. Seorang guru sederhana yang multitalen, karena disamping mengajar beliau jago dibidang seni suara maupun seni tari. Orang yang semangat mengajar pada anak didiknya dengan displin tinggi dan selalu memacu anaknya Pinter dalam pelajaran.
Pak Dar menjadi idola dan selalu terkesan di hati karena tehnik mengajarnya betul betul mengena di kala kondisi siswa saat itu minim sarana dan fasilitas. Siswa yang hanya sarapan ampok (calon nasi jagung) secara teori kesehatan memang tidak bisa cerdas, karena memang gizinya kurang, apalagi tidak ada lauk yang lainnya. Namun atas kegigihan dan disiplin yang di tanamkan pak Darmadi merasa puas dengan hasil pembelajaran yang dicapai.
Suatu ketika, begitu masuk langsung ulangan, beliau menyampaikan semua buku dimasukkan, siapkan kertas dan bolpoin kita ulangan. Ulangan model dikte dan langsung dijawab membuat siswa berfikir keras bahkan bisa membuat siswa mati kutu. Namun apa yang terjadi, siswa kala itu yang belajarnya pakai ublik ( minyak tanah di masukkan tempat dan dikasih sumbu hingga menyala dan menerangi saat belajar) setelah dicocokkan ada yang nilai 9 walau banyak yang nilainya dibawah 6. Nilai yang samgat murni dan tidak ada campuran sedikitpun.
Itulah hebatnya anak sekolah zaman dulu, penggaris dan duding (sebuah lonjoran dari bambu) yang melayang di kaki dan badan seperti menjadi sahabat sejati yang dirasakan setiap hari. Tidak pernah lapor ke ibu dan bapak walau di sekolah sudah mendapat sarapan sabetan penggaris dan duding. Rasa sakit sabetan penggaris menambah semangat kita untuk menghafal UUD 1945 dan butir butir P4 ( Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila ) yang kata doktrinasi.
Anak anak zaman tahun 1980 an sekarang sudah pada sukses dan mapan karena metode pendidikan yang sangat bagus. Kecerdasan, displin, tanggungjawab dan kesederhanaan dibangun di sekolah maupun di rumah. Tanpa tehnologi anak sekolah menghafal pelajaran dengan semangat. Persaingan di sekolah bukan karena kaya dan miskin, baju bagus atau jelek, bahkan bagi yang tidak punyai tidak pernah bawa uang saku. Mereka bersaingan karena memang pengen pintar dan bisa memahami pelajaran diluar kepala.
Pak Darmadi adalah potret guru idola di zamannya, namun kenangan indah dan ilmu yang diberikan samgat berarti. Sopan dalan bertutur kata, sopan dalam tingkah laku dan cerdas dalam pelajaran selalu di tanam di sekolah. Tantangan pelajar saat itu bukan globalisasi dan revolusi 4.1 namun kepribadian dan integritas diri dalam semua kehidupan di miliki.
Pak Darmadi adalah Guru Idola, karena sentuhan kasar penggaris menyadarkan semua muridnya untuk Pinter dan memahami pelajaran. Tanpa tekanan penggaris di punggung semangat untuk belajar kurang. Hampir semua siswa merasakan, namun semua menjadi kenangan hidup yang begitu berarti untuk menjadi orang yang kuat mental dan berani dalam mengarungi kehidupan
Pak Darmadi adalah lentera dalam kegelapan, karena ilmu pengetahuan yang diberikan membuat murid muridnya menjadi orang sukses dalam menggapai kehidupan, memberi manfaat pada orang lain dan menjadi pejuangan kemanusiaan.
Begitu mulianya seorang guru, semua yang diberikan sangat berarti dalam kehidupan. Guru tetap menjadi pahlawan kehidupan siapapun, karena yang memasukan kelembutan hati, kecerdasan fikir, kesadaran diri sebagai manusia dan kebahagian dunia akherat adalah Guru.
Mungkin banyak murid yang lupa guru karena keadaan, tapi di hati murid selalu ada guru yang selalu dikenang sepanjang hayat karena apa yang telah diberikan hingga dia menjadi orang yang mampu bertahan hidup dalam kondisi apapun.
Berbahagialah guru Indonesia di hari Guru 2024, tetaplah semangat mengajar dan mencerdaskan rakyat Indonesia. Tanpa dirimu dunia akan gelap gulita, karena dirimu dunia penuh suka cita dengan nilai kemanusiaan yang penuh cinta !!!
Semoga Pak Darmadi Sehat dan panjang umur, sebuah catatan kenangan buat jenengan, semoga memberi inspirasi pada guru yang lain dan siswa yang akan menghadapi tantangan Globalisasi dan Revolusi Industri 4.0
Penulis
HM. BASORI, M.Si
Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy
Belum ada komentar