Beberapa hari setelah pulang dari Retreat di Magelang, Bupati Marhen langsung gerak meninjau sejumlah jalan berlubang yang di telah membawa korban nyawa di beberapa tempat. Saking semangat dan kasihan mendengar banyak korban meninggal karena jalan yang berlubang, maka jalan negara yang mestinya bukan kewenangannya ikut ditambal karena membahayakan jiwa.
Gebrakan pertama untuk melihat dan memperbaiki jalan berlubang itu baik, namun ada yang lebih penting lagi sebenarnya, yaitu memberi tahu kepada para pejabat kalau kepemimpinannya yang baru ini, beberapa lubang perilaku pejabat birokrasi yang lepas dari etika sebagai pelayan publik harus di perbaiki.
Sisi negatif perilaku pejabat birokrasi yang rendah komitmen melayani, basa basi dalam sikap, asal Bapak senang dan memainkan anggaran sana sini harus disampaikan agar ada perubahan.
Sebagai bupati baru Kang Marhen harus memberikan brifing performen kepemimpinannya kedepan bagaimana agar sisi negatif perilaku pejabat birokrasi tersebut bisa menjadi lebih baik. Disamping itu perlu adanya kontrak baru agar masing masing membuat kontrak kinerja dan menanda tangani pakta integritas. Jika suatu saat mereka tidak bisa bekerja maka bisa diganti.
Sebagai bupati baru Kang Marhen berada pada kondisi yang dilematis, ketika seorang bupati tidak bisa melakukan perubahan ekstrim karena rekrutmen jabatan sudah di atur sedemikian rupa. Disisi lain yang ada ya hanya itu itu saja, dengan sikap dan perilaku seperti yang kita lihat selama ini. Artinya bupati tidak bisa mencari orang baru yang lebih baik dari yang ada.
Maka dari itu di awal kepemimpinannya, kang Marhen harus memperbarui komitmen seluruh pejabat untuk siap menjadi pelayanan yang baik, meminimalisir permainan anggaran, berfikir untuk kemajuan rakyat bukan kemajuan pribadi, selesaikan masalah dengan batas waktu maksimal contoh tentang tambang, dan masalah strategis lainnya.
Kang Marhen harus banyak belajar dari gaya kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Walau beda kekuasaan dan daerahnya, Dedi Mulyadi membuat terobosan baru bagaimana mengelola pemerintah daerah dengan komunikatif, fleksibel, rasional, terukur, masalah terselesaikan dan berwawasan kedepan.
Dedi Mulyadi menjadi role mode kepemimpinan kepala daerah masa kini yang patut dijadikan contoh. Birokrasi yang inovatif dan melayani akan lebih disenangi rakyat dari pada birokrasi yang kaku dan sok disiplin. Kita akan tunggu langkah kongkrit kang Marhen untuk Nganjuk lebih maju.
Penulis
HM. BASORI, M.Si
Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy
Belum ada komentar