Perjalanan hidup manusia memiliki garis kehidupan dalam arti luas yang bermacam macam. Orang tua kita yang memiliki ilmu agama karena mondok atau sekolah pesantren memberikan contoh berupa perilaku dengan mengajak anaknya solat, puasa bahkan sifat sifat baik nabi dan rosul. 

Namun jika orang tuanya tidak mondok atau sekolah di madrasah anak tidak memahami pendidikan agama dari kecil. Dia disekolahkan ke sekolah umum hingga anak mencari sendiri pengetahuan agama dengan guru di sekolah atau siapa yang dianggap mampu. Kehidupan beragama seseorang sangat dipengaruhi oleh orang tuanya ketika masih kecil. Maka kebiasaan tersebut akan dilakukan hingga dewasa. 

Jika kita memahami konsep seseorang beragama adalah terjadinya ikatan batin yang kuat antara manusia sebagai Makhluq dan Allah sebagai Sang Kholiq atau Maha Pencipta. Hubungan manusia dengan Allah berupa sholat mestinya harus ada klik (hubungan yang melahirkan ketenangan hati, kenyamanan batin dan kesadaran fikir bahwa saat ibadah seseorang berserah diri mengabdi kepada Allah ). 

Klik manusia dengan Allah dalam ibadah rasanya sulit dilakukan oleh banyak orang. Bahkan gerakan sholat hanya sebagai gerakan fisik untuk menggugurkan kewajiban sesuai PerintahNya. Fenomena ini sering tidak disadari oleh banyak orang dalam ibadah. 

Sehubungan dengan hal tersebut, maka kita saatnya melakukan evaluasi, merenung dan mengembalikan makna ibadah yang benar benar sebuah aktifitas batiniah (jiwa) yang berserah, bersinergi dan mengabdi o kepada Allah. Olah batin  yang sambung dengan Allah akan melahirkan getaran hati, kebahagiaan dan rasa nyaman dalam ibadah. 

Getaran hati, kebahagiaan dan rasa nyaman dalam ibadah akan melahirkan fikiran yang cerah dan semangat hidup yang besar dalam menjalani dinamika hidup. Itu semua adalah buah dari ibadah solat dan dzikir yang kita lakukan. 

Maka ketika kita belum bisa menemukan semua rasa tersebut di atas, maka solat kita hanya menggugurkan kewajiban dan olah fisik saja. Saatnya kita sadar bahwa ibadah adalah ikatan batin kita dengan Allah, jika belum klik berarti pasti ada yang tidak beres dalam diri kita. 

Jika hati kita tidak bisa klik dengan Allah, maka di teliti, apa makanan yang kita makan dari cara yang haram, apakah kita terlalu banyak maksiat dan dosa atau perilaku lain yang bertentangan di perintah Allah SWT. 

Sebuah catatan sederhana untuk mengingatkan diri kita yang mungkin lupa bahwa solat kita masih sebatas menggugurkan kewajiban,  bukan sebuah ikatan batin antara Makluq dengan Sang Kholiq ( Allah ) yang melahirkan kebahagian hidup dan kemuliaan hidup. 

Penulis 

HM Basori M.Si 

Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, and Advocasy

Komentar

    Belum ada komentar

Tinggalkan komentar