Menjelang Lebaran sebagian besar orang sudah memenuhi sejumlah toko baju yang ada di mana mana. Semua ada, tinggal kita siap uang berapa, itulah zaman modern sekarang. Belum lagi mereka yang menengah ke atas sejak bulan Romadlon datang paketan setiap hari sudah pada datang. 

Melihat hiruk pikuk orang beli baju lebaran jadi keringat kita semua yang lahir di tahun 70 an. Orang kelahiran tahun 70 an mengalami sebuah era yang serba terbatas, bahkan makan saja masih mengandalkan hasil kebun seperti singkong, Wi, bothe atau sejenisnya. 

Bahkan ketikan akan Lebaran anaknya langsung diajak ke pasar dibelikan baju seragam sekolah merah putih dan pramuka dengan pertimbangan selesai lebaran bisa dipakai untuk sekolah. Begitu sederhananya orang tua kita waktu itu. 

Hal tersebut sangat kontras dengan zaman sekarang, kehidupan semakin mapan dan layak, anak mengerti merek dan mode baju dari media sosial atau internet. Bahkan sebagian anak sekarang belanja di shopee atau lainnya sudah biasa, entah uang dari mana saja. 

Berbicara Lebaran zaman sekarang sebuah  perilaku dan gaya hidup yang luar biasa. Hal tersebut dapat kita lihat, ketika anak sudah menunjuk merek maka satu potong baju yang sederhana harga pasti di atas Rp. 100.000. Untuk atasan saja. Coba kita hitung kalau belinya satu stel dengan celana, Harga celana pasti di atas Rp. 100.000. 

Jika kita melihat persiapan lebaran untuk kalangan menengah ke atas, harga baju di matahari maupun di UNIQLO satu potong rata rata RP 399.000 lebih. Itu belum jilbab button Scarves 1 potong harganya 475.000.

Sebuah fenomena kebutuhan hidup yang sangat besar hanya sebuah penampilan dan untuk bergaya. Kalau mereka beli lebih dari satu, belum yang pesan online !!

Semua cerita di atas adalah dinamika kebutuhan dan gaya hidup manusia modern sekarang. Syekh Abdul Hamid bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdil Qadir Qudsi al-Makki asy-Syafi’i dalam kitabnya Kanzun Najah was Surur mengungkapan:

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ، وَكُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ

Artinya, “Bukanlah disebut id bagi orang yang mengenakan (pakaian) baru, sesungguhnya id itu bagi orang yang ketaatannya bertambah, dan setiap hari yang tiada maksiat di dalamnya itulah id” (Abdul Hamid al-Makki asy-Syafi’i, Kanzu an-Najah wa as-Surur [Damaskus: Dar al-Sanabil, 1430 H/2009 M], h. 263).

Begitulah hakekat ied yang sesungguhnya, maka kita semua harus bisa menahan untuk sederhana menyambut ied agar tidak merasa terbebani sejumlah uang yang besar hanya untuk bergaya. 

 Menemukan Romadlon hingga Idul fitri adalah sebuah anugerah terbesar dalam hidup. Maka jangan pernah lupa untuk berbagi pada orang yang membutuhkan sebagai bunga bunga sosial kita, karena dalam harta kita ada hak orang lain.

Berusaha tetap konsisten dalam kesederhanaan dan selalu menambah keimanan buah dari perjuangan ibadah selama satu bulan penuh. Kita semua berdoa semoga Allah selalu memberi kita petunjuk ke jalan yang benar. 

Penulis 

HM Basori M.Si 

Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, and Advocasy

Komentar

    Belum ada komentar

Tinggalkan komentar