Pendiri NU adalah orang Masyayih yang ngalim ngallamah, ahli tirakat dan memiliki semangat juang tinggi untuk membangun agama masyarakat. NU lahir ketika tatanan kehidupan masyarakat belum baik dan masih sangat tradisional. 

Maka tidak heran jika tradisi masyarakat sampai saat ini masih lekat dengan NU. Dari dulu berbicara NU pasti melakukan tahlilan, Yasinan, kenduren, solawatan, dan ritual lain yang begitu sederhana tetapi memiliki pengaruh ruhaniah yang sangat besar. 

Ajaran NU membumi karena cara penyampaiannya tidak menentang tradisi yang ada dan dekat dengan masyarakat petani, pedagang, segmen masyarakat kecil lainnya. 

Tradisi NU melahirkan kesadaran hati untuk menjalankan Islam ala ahlussunnah wal jamaah dengan ritual yang mampu menentramkan hati, membangun solidaritas tinggi dan semangat mengokohkan persatuan masyarakat.

Nilai perjuang NU dari dulu sampai sekarang masih tetap sama, hanya kerasnya dinamika kehidupan berbangsa baik politik ekonomi maupun sosial akhirnya mempengaruhi perilaku kader dan pengurus NU. Jamaah NU tetap istiqomah dengan ajaran mbah Hasyim tanpa melihat figur pengurus yang kadang telah menyimpang dari tujuan di dirikan.

Lunturnya Tradisi Mulia di NU

Tradisi dan ajaran Nahdlatul Ulama (NU) yang cenderung tradisionalis menghadapi tantangan serius di era modern. Lunturnya beberapa tradisi ini disebabkan oleh kombinasi faktor internal, eksternal, dan perubahan sosial-budaya.

Berikut adalah faktor-faktor utama penyebab lunturnya tradisi ajaran NU : 

  1. Perubahan Gaya Hidup. Modernisasi membawa perubahan gaya hidup yang lebih pragmatis dan efisien, seringkali berbenturan dengan tradisi NU yang membutuhkan waktu lama (seperti tahlilan, diba'an, atau ziarah).
  2. Arus Informasi. Generasi muda NU kini terpapar berbagai pandangan agama melalui internet dan media sosial, yang memunculkan tren pemahaman baru yang lebih instan dan seringkali mempertanyakan tradisi. 
  3. Kurangnya Minat Generasi Muda. Generasi muda (milenial/Gen Z) seringkali menganggap tradisi tradisional sebagai sesuatu yang kuno, tidak relevan, atau terlalu rumit.
  4. Politik Praktis. Keterlibatan sebagian kiai atau tokoh NU dalam politik praktis  membuat fokus pada pendidikan dan pembinaan tradisi di akar rumput berkurang. Politik telah memporak porandakan segmen NU yang awalnya tradisional menjadi pragmatis dan hidonis 
  5. Persaingan Hidup. Kehidupan modern yang menjanjikan kenikmatan dan gaya hidup hedon mempengaruhi perilaku kader NU baik dari sisi pemikiran maupun gaya hidup
  6. Fenomena sekularisasi memisahkan antara nilai-nilai agama dengan kehidupan sosial dan budaya, menyebabkan praktik keagamaan yang kental tradisi (budaya lokal) dianggap kurang rasional atau tidak sesuai dengan kehidupan modern. 
  7. Nilai Moral yang bersumber dari kitab kitab salaf mulai zuhud, qonaah, iffah dan lainnya rusak karena perilaku politisi yang menggunakan uang sebagai senjata pamungkas untuk menggaet dukungan
  8. Kader NU masa lalu tidak memiliki kekuasaan, jabatan atau kekayaan,  karena akses kesana memang tidak ada bahkan diputus. Perilaku hidup sederahana, tawaduk sama kyai dan tindakan melawan organisasi hampir tidak pernah terjadi. Begitu banyak kader NU berada di kekuasaan dan jadi pejabat, dengan fasilitas dan uang yang dimiliki nilai nilai NUnya luntur karena merasa hebat dan bisa membeli dengan uang yang dimiliki 
  9. Para pengurus elit NU merasakan enaknya menjadi pengurus, karena para politisi memberikan bunga bunga sosial yang lebih karena memiliki tujuan politik. Mobil dan operasinya diberi, jatah bulanan dikasih bahkan jika butuh emergensi larinya ke politisi yang beruang. Maka yang terjadi adalah politik transaksional dengan mengorbankan harga diri dan organisasi 

Lunturnya tradisi ajaran NU memang sebuah realita, maka syahwat duniawi baik uang dan kekuasaan menjadi penyakit akut yang menjalar pada para kader NU. Secara organisasi NU tetap baik, namun perilaku kader NU yang menyimpang ini memiliki dampak yang besar terhadap masa depan NU di masa depan.

Warga NU tidak akan pernah lapuk oleh waktu, warga NU hanya ingin ibadah dan hidup tenang dan nyaman. Karena tahlil, istghosah, Yasinan dan lainnya menjadi olah rohani yang menjadi santapan sehari hari. Namun pengurus NU yang sudah ngawur dengan menggunakan organisasi untuk kepentingan pribadi dan melanggar etika organisasi merusak hati warga NU yang sudah ihlas dan tidak lillahi ta’ala. 

Ketaatan semu, sopan santun semu, tawadluk semu, kejujuran semu, berjuang semu dan lain lain yang semu adalah sesuatu yang nyata dalam diri kader NU. Maka walaupun pahit harus kita sampaikan agar yang membaca sadar kalau NU itu alat perjuangan untuk mencari ridlo Allah sebagai santri mbah Hasyim. Jika ada orang yang merasa memanfaatkan NU atau mendapat manfaat dari NU cepatlah sadar dan taubat agar tidak memberatkan hisab kelak di akherat.

NU itu terminal keberangkatan seluruh kader NU yang mau terjun ke politik. Artinya NU bukan hanya milik satu partai, jika pengurus NU bersikap acuh kepada kader NU yang ada di partai lain, berarti mereka telah salah memahami khittoh. 

Buat semua kader dan warga NU .. ! Banyaklah belajar dan membaca bagaimana para para pendiri NU dulu berjuang, Bagaimana Gus Dur berjuang untuk kebesaran NU dan Indonesia. Sampai sekarang beliau masih hidup dan melihat bagaimana para penerusnya yang katanya berjuang demi NU. Ribuan orang setiap hari berziarah ke makam beliau.

Kita semua berdoa semoga warisan mbah Hasyim, mbah Wahab dan mbah Bisri berupa NU ini tetap eksis sampai akhir masa. Pengurus NU segera mendapat hidayah dan kembali ke jalan yang benar. Jika tetap ke jalan yang salah mungkin Allah menguji keimanan mereka ! Dan setiap perbuatan besok akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah swt.

Penulis 

HM. BASORI, M.Si 

  • Dewan Pembina Instruktur PW Ansor Jatim 
  • Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy


Komentar

    Belum ada komentar

Tinggalkan komentar