Ramainya publik dalam menyikapi sikap Gus Miftah dengan Penjual Es Teh memberikan pelajaran berharga dalam kehidupan kita, dimana apa yang dsampaikan oleh Gus Miftah mungkin tidak difikir oleh penjual teh karena memang dia lagi serius membawa teh yang Dijual, sementara nitizen sangat antusias  untuk memblow up besar besaran kejadian tersebut di media sosial  hingga viral. 

Berbagai Tanggapan muncul hingga semua yang berkaitan dengan Gus Miftah dihabisi, bahkan jabatan beliau sebagai staf Khusus président diminta  untuk mengundurkan diri. Dari beberapa sikap masyarakat tersebut sebenarnya ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kita bersama antara lain, 

Pertama, Masyarakat kıta memang memendam rasa kecewa yang ditahan sangat lama, sehingga ketika ada sesuatu yang menyangkut pejabat atau tokoh masyarakat, tokoh agama seperti ada ruang  untuk meluapkan kekecewaan tersebut sekuatnya. Menurut ilmu psikhologi sosial, perasaan dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh situasi sosial. Kekecwaan masyarakat terhadap kondisi birokrasi dan perilaku pejabat membuat cara berfikir mereka begitu agresif dan emosional. Maka sangat dimaklumi jika masalah gus Miftah menjadi viral bahkan mendunia 

Kedua, Sisa kekecewaan terhadap pesta demokrasi ( pemilu ) masih begitu terasa, sehingga Gus Miftah yang nota bene tokoh yang menjadi Tim Sukses Pak Prabowo Subiyanto memiliki daya gesek yang sangat kuat. Politik selalu identik dengan aksi goreng menggoreng, entah itu partai yang kecewa atau kelompok lain yang merasa iri terhadap gus Miftah dan gerindra 

Ketiga, jejaring media sosial memiliki ikatan emosional yang sangat besar sehingga pesan berantai yang memiliki bobot moralitas yang tinggi sehingga rasa peduli dan solidaritas terbangun dengan sangat cepat. Dunia memang sudah berubah, perkembangan tehnologi informasi mampu mempengaruhi opini publik sangat cepat. Maka negara negara yang masih diktator atau ketat dalam tehnologi melarang aplikasi medsos masuk di negaranya 

Keempat, Perubahan yang besar  terhadap Pendidikan budi pekerti dan etika di sekolah telah merubah cara berfikir dan cara bersikap generasi kita, menjadi generasi yang sensitif dan sering lupa norma norma  dalam  kehidupan, Sehingga lahir sebuah generasi yang emosional bahkan lepas kontrol tindakan tersebut melanggar norma apa tidak. Kita orang tua generasi tahun 70 dan 80 an begitu kental kepribadian jawa dengan sopan santun dalam tutur kata maupun sikap

Dari semua alasan tersebut akhirnya semua kebaikan yang pernah dilakukan Gus Miftah seperti hilang ditelan bumi. Bagi orang Islam khususnya kaum Santri memahami, setiap orang memiliki kewajiban untuk amar makruf nahi mungkar, dengan cara dan sasarannya berbeda beda. Maka jika ada orang yang berdakwah selalu memberi apresiasi positif kepadanya. 

Kita semua sadar bahwa Gus Miftah memang bersalah dengan  menyampaikan kata kata yang tidal semestinya disampaikan, tetapi ketika kita melakukan pembenaran yang memilik unsur menghujat dengan ungkapan yang sangat tidak sopan itu juga tidal sesuai dengan etika bangsa dan agama kita. 

Maka  kita mesti harus berfikir rasional, bagaimanapun seorang Gus Miftah memiliki kelebihan yang harus kita hargai. Gus Miftah telah melakukan banyak hal yang baik, yang  mungkin  kita tidak  bisa melakukannya. Maka kita mesti harus mampu memahami secara rasional dan fair. 

Kita semua harus mengambil hikmah yang besar dalam kasus ini, bahwa jika Allah berkehendak apapun akan bisa terjadi. Pak Sunhaji Penjual Es Teh tersebut oleh Allah kehidupannya di Muliakan dengan harta yang banyak dari donasi orang orang baik, diberangkatkan umroh, anaknya diberi beasiswa bahkan ada yang memberikan rumah. 

Rahasia Allah dalam kehidupan selalu akan ditunjukkan oleh Allah untuk memberikan pelajaran bagi orang yang Beriman, kalau Allah adalah Maha Segala galanya. 

Sebuah catatan lagi kita semua sebagai manusia pasti memiliki kesalahan dan aib. Diri kita kelihatan baik karena Allah telah menutupi aib dan kesalahan yang kita lakukan. Maka jangan pernah membenci yang berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan tidak disukai oleh Allah SWT.

Saatnya kita belajar menjadi warga bangsa yang cerdas dan berkepribadian agar generasi kita akan meniru dengan sikap yang selalu memegang norma dan etika di masa yang akan datang. 

Menjaga hati, pikiran dan perkataan untuk tidak menjelekkan orang yang melampau batas, karena kita tidak pernah tau apa yang di mainkan oleh Allah terhadap semua makhluknya. Kita tidak akan tau apa yang akan terjadi pada diri kita di hari esok. Menjaga diri untuk terus berbuat baik adalah langkah yang sangat tepat untuk menghadapi kematian yang akan datang pada kita sewaktu waktu. 

Catatan ini bukan memberi pembelaan pada Gus Miftah, tetapi memberikan analisa lebih berimbang untuk menjadikan kita memahami kehidupan dengan kaca mata umat yang memiliki hati nurani dan iman kepada Allah SWT. Semoga Allah selalu Menjaga Kita untuk selalu dalam bimbinganNya. 

Penulis 

HM. BASORI, M.Si 

Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy

Komentar

    Belum ada komentar

Tinggalkan komentar