Sebelum reformasi banyak kelompok kritis negeri ini berfikir serius tentang civil society, pemberdayaan, pembelaan kaum yang lemah bahkan rela mati untuk demokrasi dan rakyat kecil. 

Sebuah gagasan yang ideal ketika kondisi ketidakmatangan, kemelaratan dan keterbatasan akibat tekanan politik yang otoritarian dan anti demokrasi. 

Sebagai simbol perlawanan orde baru dan tokoh politik dengan maindstrem kerakyatan Gus Dur Memberikan pendidikan politik yang mengedepankan kesederhanaan, menggunakan komunikasi dari hati, kemampuan untuk mendengar, empati dan turut merasakan, kedekatan dengan rakyat, mengutamakan kepentingan bersama dan keteladanan. 

Gus Dur adalah Master Class Kepemimpinan Modern dengan memadukan antara intelektualitas dengan kedekatan dengan rakyat kecil yang dibungkus dengan pendekatan yang tidak biasa dan penuh humor. 

Gus Dur adalah  intelektual brilian yang fasih berbicara filsafat, teologi dan politik global. Beliau orang yang mampu menerjemahkan gagasan kompleks  yang mudah dipahami oleh petani, pedagang maupun tukang becak. Ia tidak merakyat dengan menurunkan level intelektualnya, tetapi dengan perspektif merakyat melalui pemikirannya yang mendalam. 

Gus Dur sebagai Bapak demokrasi dan Bapak bangsa memiliki kader idiologis maupun politis yang sekarang masih berada di kekuasaan, bahkan roh pemikiran Gus Dur dipahami oleh mereka semua, bahkan seluruh warga bangsa Indonesia insya Allah masih ingat. 

Pertanyaannya, kemana nurani mereka sehingga lahir para pemimpin yang rakus, hidonis dan mementingkan diri sendiri ?

Sebuah realita yang patut kita renungkan bersama. Ketika para pemimpin sudah kehilangan orientasi kepemimpinan yang baik dan memegang nilai luhur sebagai manusia, maka bahaya besar sudah berada di depan mata. 

Pemimpin yang rakus (serakah akan kekuasaan, uang dan pengaruh ) dan Hidonis ( mengejar kesenangan duniawi )di pengaruhi oleh faktor internal ( dalam diri individu ) dan eksternal (lingkungan dan sistem )

Gangguan Internal dalam Diri Sendiri

  1. Gangguan kepribadian berupa, Pertama, narsistik ( butuh pujian, memiliki rasa empati yang rendah, sering memanfaatkan orang lain untuk tujuannya ). Kedua, Psikopat ( kurangnya rasa bersalah dan empati, dengan perilaku yang manipulatif, impulsif, dan berani mengambil resiko untuk memuaskan dirinya sendiri. 
  2. Lemahnya kompas moral ( tidak memiliki pondasi nilai etika dan moral yang kuat 
  3. Memahami minsed kekuasaan yang salah ( memahami kekuasaan untuk dinikmati sendiri bukan sebagai amanah untuk melayani

Faktor lingkungan dan Sistem 

  • Sistem politik dan institusi yang lemah 

Pertama, Lemahnya chek and balances ( lemahnya lembaga pengawas dan kurang berfungsi lembaga pengawasan secara maksimal )

Kedua, Korupsi yang sistemik ( budaya korupsi yang menjadi turun temurun dilakukan.

Ketiga, Rekruitmen calon pemimpin yang buruk ( pemimpin diambil dengan penuh KKN ) 

  • Lingkungan sosial dan Pengaruh Kelompok.

Sebuah lingkungan yang hidonis dan perilaku Yes Man ( sebuah tradisi menjilat dan menyenangkan hati ) 

  1. Kekayaan dan Akses ( sebuah godaan yang besar ketika berkuasa berpotensi untuk mengeruk keuntungan sebesar besarnya untuk dirinya sendiri dan kelompoknya. Disisi lain akses kekuasaan melahirkan manfaat berupa sumber daya ekonomi )
  2. Latar Belakang Pendidikan Pertama, Pendidika keluarga yang materialistis bisa membentuk watak yang serakah dan tidak bisa menunda kesenangan Kedua, Trauma Masa Lalu “ Kemiskinan dan kekurangan yang pernah dialami melahirkan sikap rakus untuk menebus semua yang tidak dapat ya dulu karena takut miskin” 

Sebuah kecelakaan hidup terbesar jika seseorang hati nuraninya mati karena kekuasaan dan uang. Jika ada pemimpin yang dlolim kita semua wajib untuk mengingatkan agar kembali ke jalan yang benar apapun caranya. 

Pemimpin dlolim melahirkan kemungkaran dan kerusakan sendi sendi kehidupan sosial dan kerusakan alam sebagai anugerah Allah yang wajib dijaga. Jangan pernah takut untuk menegakkan kebenaran. 

Siapkan barisan, susun kekuatan, dirikan lembaga yang mampu melakukan kajian, analisis, terhadap seluruh kebijakan, sampaikan pada rakyat bagaimana mereka memainkan kekuasaan dan jabatan. 

Kekuasaan ada batasnya, pemerintah daerah sebagai organisasi sektor publik harus akuntable dalam melaksanakan keuangan publik, baik dari sisi kinerja maupun keuangannya. Melaporkan setiap penyalahgunaan keuangan sektor publik kepada aparat penegak hukum adalah solusi terbaik untuk menyelamatkan uang rakyat. Semoga mencerdaskan semuanya. 

HM Basori M.Si 

Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, and Advocasy

Komentar

    Belum ada komentar

Tinggalkan komentar