Tradisi Megengan merupakan bentuk syukur dan persiapan spiritual masyarakat menjelang datangnya Ramadhan, yang diwujudkan melalui kegiatan doa bersama, serta membagikan makanan berupa berkat (nasi lengkap dengan lauk-pauk) kepada tetangga dan sanak saudara.

Secara harfiah, dalam Bahasa Jawa, megeng artinya menahan. Sehingga maknanya bisa diartikan menahan hawa nafsu sebagai persiapan untuk memasuki bulan suci. Masyarakat Islam pada saat bulan Ramadhan memang diwajibkan untuk menahan hawa nafsunya.

Terlepas orang di luar sana tradisi itu bidah atau khurofat nyatanya Megengan itu melaksanakan perintah Allah untuk bersyukur dengan cara berbagi makanan kepada kerabat dan orang tua. Melakukan doa bersama untuk arwah para bapak, ibu atau nenek kita yang sudah meninggal dunia sebagai bentuk birrul Walidaini 

Megengan dan Keberkahan Rizqi 

Era tahun 1980 tradisi Megengan sangat luar biasa dilakukan. Hampir setiap rumah melakukan kondangan (sedekah berkat (nasi+lauk komplet) diujubne dengan bahasa jawa). Dalam satu malam bisa sampek 7 berkat bisa di bawa pulang. 

Karena tahun itu masih sangat kolot dan larang pangan, maka Megengan ada pesta makan makan. Kalau gak habis nasi berkat dibuat krupuk sama ibu ibu butuh suguhan lebaran. Sangat syahdu hidup di desa saat itu. 

Tradisi Megengan dengan kondangan sekarang sudah punah, banyak orang merasa berat melakukan sedekah untuk Megengan, berbagi nasi plus lauk pauk kepada saudara orang tua atau nenek dan kondangan. 

Apakah ini sebuah pertanda Allah mengurangi keberkahan Rizqi ?? Atau memang kita masuk golongan orang yang bakhil atau medit untuk berbagi kepada sesama ?? Silahkan dinilai sendiri !! 

Megengan dan Persiapan Puasa Romadlon 

Saat Megengan, orang-orang biasanya membaca doa-doa seperti Tahlil, Tahmid, dan Surat Yasin, serta doa khusus menyambut Ramadan, untuk mendoakan leluhur dan memohon berkah bulan puasa, diikuti dengan makan bersama dan berbagi makanan seperti kue apem. 

Amalan ini adalah bentuk kegembiraan dan persiapan spiritual menjelang bulan Ramadan. Begitu luar biasa tradisi Megengan sebagai tonggak awal untuk menahan hawa nafsu sejak dini atau sebelum masuk bulan puasa. 

Umat Islam memang wajib menahan hawa nafsu ketika puasa dengan menahan makan minum, menjaga diri dari dosa dan memperbanyak amal dengan solat tarawih, tadarus dan puasa. 

Saat Megengan tradisi ziarah kubur merupakan bagian yang sangat penting. Ziarah kubur dilakukan untuk mendoakan orang tua atau nenek yang telah meninggal. 

Ziarah kubur menumbuhkan kesadaran kalau manusia hidup harus ingat orang orang yang berarti dalam hidup kita, sehingga walau sudah meninggal dunia kita wajib mendoakannya. Doa dan dzikir ziarah kubur menumbuhkan rasa syukur, ketenangan hati dan rasa bahagia karena telah diberi keberkahan hidup berupa umur panjang banyak rizqi.

Di luar sana banyak yang menangis dan susah karena oleh Allah diberi ujian rizqi, sehingga tidak bisa ziarah ke makam orang tuanya yang sudah meninggal dunia.

Maka berbahagialah bagi mereka yang bisa ziarah kubur dan berdoa untuk keluarganya yang sudah meninggal, sebagai bentuk ketaatan dan kebaikan kita dengan memberikan doa kebaikan di alam kubur.

Jaga tradisi yang baik, mengambil sesuatu yang baru, yang lebih baik !! 

Sebuah Catatan sederhana semoga bermanfaat !!

Penulis 

HM. BASORI, M.Si 

Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy

Komentar

    Belum ada komentar

Tinggalkan komentar