Resiko terbesar dari seorang kader partai adalah dipecat jika tidak loyal terhadap perintah partai, apalagi Calon Legislatif ( Caleg ) yang jadi. Hiruk pikuk Pilkada selalu menempatkan caleg jadi sebagai tulang punggung pemenangan bagi seorang calon.
Secara realita, seorang caleg jadi sebenarnya sudah kehabisan darah untuk membangkitkan kekuatan dalam mendukung seorang calon. Karena biaya kampanye yang dihabiskan sudah di atas 1 Milyar. Belum lagi harus mengikuti bimtek partai yang biayanya di atas 5 juta, belum lagi apel kader yang pasti mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Kondisi tersebut membuat hati dan Fikiran caleg jadi hancur berkeping keping. Itulah resiko politik seorang kader partai. Maka jika seorang calon bupati atau Gubernur harus memahami psichologi caleg jadi jika disuruh membantu memenangkan calon kepala daerah. Berikut ini analisisnya :
Begitulah perilaku politik saat ini, maka siapapun anda yang ingin menggunakan mesin politik calon jadi harus memahami dan bisa mengambil hati mereka. Politik sebagai komoditas tidak bisa kita elakkan dalam era politik modern sekarang ini.
Sebuah keprihatinan namun itulah yang terjadi, maka menggagas visi yang baik harus disertai gizi yang lebih baik.
Penulis
HM. BASORI, M.Si
Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy
Belum ada komentar