Lebaran Idul fitri memunculkan beberapa penampilan dan gaya hidup yang ditandai dengan aksesoris pribadi yang dimiliki. Mungkin saudara atau kerabat pakaiannya branded, Handphonenya bermerek, mobilnya bagus, memiliki beberapa aset dan mungkin uang yang banyak.
Semua aksesoris tersebut merupakan indikator sebuah kemapanan ekonomi seseorang seseorang yang dilihat oleh masyarakat secara lahir. Namun benarkah demikian ?? Jika benar, orang yang beriman harus melakukan evaluasi diri terhadap bagaimana cara memperoleh harta dan kekayaan.
Hidup butuh uang, karena dengan uang kita bisa berekspresi dan bisa membeli apa yang kita inginkan. Namun bagaimana mencari uang yang benar harus juga kita lakukan. Disisi lain jika kita merasa mapan secara ekonomi, apakah kewajiban sosial kemanusia untuk berbagi sudah kita lakukan.
Muhasabah diri tentang harta adalah bagian terpenting dalam hidup. Orang jawa bilang jangan sampai kita “wal geduwal opo wae di untal” ( apapun dilakukan yang penting dapat uang ). Pesan moral ini kelihatan sangat sepele namun memiliki makna yang sangat dalam. Karena uang yang kita dapat di makan oleh anak dan istri. Maka bah bah dulu pesan agar kita menjaga kehalalan rizqi yang kita dapat.
Kemapanan ekonomi semu jangan sampai terjadi pada kita, karena semua uang yang kita dapat dan kita belanjakan memiliki tanggungjawab Ilahiyah. Semua akan masuk hisab (perhitungan) dengan Allah di hari kiamat kelak.
Aspek Aspek Rizqi Yang Baik Adalah Sebagai Berikut :
Kita diperintahkan untuk bekerja dengan semangat seolah olah kita hidup selamanya, namun kita juga harus semangat beribadah seolah olah besok kita akan mati. Maka menjaga diri untuk selalu dalam usaha yang baik dan halal adalah kunci hidup kita.
Berbahagialah orang yang memiliki sedikit harta, karena kelak di akherat hisabnya (perhitungan amalnya) tidak akan terlalu lama dan ribet. Hidup ini pilihan, namun yang terbaiklah yang harus kita pilih agar hidup kita berbahagia di dunia maupun di akherat. Amin
Penulis
HM. BASORI, M.Si
Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy
Belum ada komentar