Mengejar dunia serasa berlari yang tiada henti, padahal perintahnya bekerjalah kamu untuk bekal mengabdi kepadaKu. Seharusnya cara berfikir kita dikembalikan pada setelan pabrik, diciptakan untuk ibadah, maka mencari uang bukan untuk kaya dengan harta melimpah, namun bagaimana hasil kita dari bekerja bisa untuk bekal ibadah. 

Kerasnya persaingan hidup telah membalikkan iman seseorang dengan menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup. Dia mengejar harta dengan berbagai macam cara, sehingga melupakan hakekat hidup yang sesungguhnya.

Catatan untuk diri kita, Hidup dunia adalah sementara, semua akan memiliki konsekuensi ilahiyah, terus berbuat baik, memahami kekhilafan dengan merubah pola fikir dan pola sikap, menyadari keterbatasan dan selalu belajar dari setiap kejadian. 

Memandang positif pada fikiran dan sikap orang akan lebih bermakna untuk kemajuan diri kita sendiri. Sesekali lepaskan semua kecintaan dunia, agar otak dan fikiranmu melihat persemaian akherat yang harus kita pupuk sepanjang detik, menit, jam bahkan hari dan bulan. 

Lihat dan fikirkan bagaimana seseorang yang dulu berkuasa, setelah tua dia seperti menunggu kematian dengan sakit dan dalam kesendirian 

Lihat dan fikirkan mereka yang mengagungkan kekayaan, ternyata dia tidak membawanya ketika ajal menjemput 

Lihat dan fikirkan mereka yang merasa gagah perkasa, dia sadar bahwa semua kekuatan ada batasnya ketika umur menggerus hidupnya !! Dan masih banyak lagi contoh lainnya. 

Untuk menuju kehidupan kedepan yang lebih baik dan indah : 

  • Lupakan semua rasa permusuhan yang membuat hati kita gelap 
  • Terus berbuat demi kemajuan kita sendiri tanpa harus mengorbankan orang lain 
  • Hargai setiap orang yang menjadi tim kerjamu 
  • Lakukan pekerjaan dengan profesional 
  • Jangan pernah lupa untuk berbagi 
  • Awali dan akhire dengan doa sebagai rasa syukur 
  • Apa yang kita dapat adalah rizqi yang akan kita berikan pada anak istri, maka carilah yang baik dan halal 
  • Semua yang ada di atas adalah tanaman kita di dunia yang akan kita petik besok di akherat.

Hanya sebuah catatan untuk mengingatkan diriku sebagai makluq yang  lemah dan khilaf. Semoga momen kesadaran diri dan mengagungkan tempat mustajabah Makkah dan Madinah selalu membawa kebaikan hati kita semua di masa yang akan datang

Penulis 

HM. BASORI, M.Si 

Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy

Komentar

    Belum ada komentar

Tinggalkan komentar