Kisah seorang Ibu Muslimat usia kira kira 70 tahun lebih, diusia yang tidak muda lagi memiliki fisik sehat, semangat berorganisasi luar biasa, supel, menjalani kehidupan dengan indah bersama anak cucu dengan penuh kebahagiaan atas Rohmat Allah SWT.
Rahasia umur dan kematian adalah takdir yang hanya diketahui Allah SWT, termasuk waktu, tempat, dan cara kematian seseorang. Kerahasiaan ini dimaksudkan untuk mendorong manusia agar terus berbuat baik, bertaubat, dan mempersiapkan diri menghadapi kematian kapan saja.
Alih-alih mengetahui "kapan" atau "di mana", lebih baik fokus pada "bagaimana" menghadapi akhir hayat dengan amal saleh, karena kematian bisa datang kapan saja, tanpa memandang usia atau kesehatan.
Bagaimana tidak bahagia ibu muslimat tersebut di akhir hayatnya, ibadah rutin dilakukan, pengajian semangat, amaliyah ibadah wajibnya tidak memiliki tanggungan, bahkan sebelum meninggal jamaah subuh dijalani beserta aktivitas batin lainnya.
Seperti biasa setelah subuhan dan beraktivitas, istirahat tidur hingga Allah memanggilnya dengan tiba tiba. Sebuah perjalanan hidup yang dirindukan banyak orang.
Hidup yang memenuhi kewajiban sebagai hamba yang taat, hingga Allah memanggil tidak memiliki hutang solat, bahkan tidak sakit atau merepotkan anak anaknya. Sebagai keluarga pasti susah ditinggalkan seorang ibu dengan tiba tiba, namun juga merasa bahagia, karena begitu sayangnya Allah kepada umatnya yang taat memanggil dengan husnul khotimah.
Sekelumit cerita di atas akhirnya bisa kita jadikan catatan penting bagi kita semua yang masih hidup, antara lain :
Pertama : Allah telah menetapkan perjalanan manusia mulai dalam kandungan sampai akhir hayat di Lauhul Mahfudz sejak zaman azali. Maka kita harus yakin atas ketetapan itu, sehingga kita harus berusaha bagaimana selalu dalam keimanan dan kebaikan.
Kedua, Hidup yang kita jalani hingga akhirnya hayat akan berakhir sesuai dengan SAP ( Sesuai Amal Perbuatannya ). Maka perjalanan ibu muslimat yang dipanggil Allah begitu indah, sudah sesuai dengan apa yang lakukan selama hidupnya. Pertanyaannya ? Apakah kita sudah sesuai dengan perintah Allah ketika kita ingin meninggal dunia dengan enak (husnul khotimah).
Ketiga, Semua Manusia inginnya hidup enak, mati enak bahkan masuk surga. Namun mereka banyak yang lupa kalau perjalanan hidup di dunia itu ibarat lahan persemaian tanaman. Kita akan memanen apa yang kita tanam, bahkan kita jelas tidak akan pernah panen karena memang kita tidak pernah menanam
Keempat, Kita memang harus banyak bertanya pada diri sendiri, apakah apa yang kita lakukan sudah sebuah tanaman yang nanti akan bisa kita petik di Akhirat ?? Agar kita selalu terjaga dalam bingkai kebaikan dan amal soleh.
Kelima, Ketika masih mudah dan kuat, atas nama ingin sukses banyak orang mengesampingkan hidup dalam bingkai Ilahiah. Bahkan mereka menganggap setiap kesalahan ketika muda bisa dihilangkan dengan istighfar ( memohon maaf ). Konsep hidup yang husnul khotimah itu bukan melakukan perbuatan yang Muflis ( orang yang mengalami kebangkrutan Akhirat ).
Orang Muflis besok di Hari Kiamat datang dengan membawa banyak pahala ibadah (seperti salat, puasa, dan zakat), tetapi juga memiliki banyak dosa karena perbuatan zalim di dunia seperti mencaci, memfitnah, makan harta orang lain, menumpahkan darah, atau memukul orang lain.
Keenam, Usia tua bukan urusan menanti kematian dengan berbagai penyakit, sedih bahkan frustasi atas kondisi jiwa dan raga. Masa tua adalah meneruskan ketenangan dan ketentraman hidup yang sudah kita bangun sejak masih muda sehingga yang ada adalah sebuah kenyamanan dan kebahagiaan hidup dengan semakin dekat dengan Allah SWT.
Ketujuh, Usia tua harus melepas semua ambisi dan keinginan duniawi, karena didasari oleh keinginan untuk mencapai kedamaian batin dan mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan, yang dipengaruhi oleh berbagai perspektif filosofis, agama, dan psikologis.
Kita yang masih hidup harus merenung tentang kematian, karena Kesadaran akan kefanaan membuat kita lebih menghargai setiap momen dalam hidup.
Ketika kita sadar bahwa waktu kita terbatas, kita cenderung tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang tidak penting.
Merenungkan akhir hidup membantu kita mengidentifikasi apa yang benar-benar bernilai. Hal ini mendorong kita untuk fokus pada hubungan, pengalaman, pertumbuhan pribadi, dan kontribusi positif, daripada hal-hal material atau sepele.
Semoga kita bisa meneladani kebaikan Ibu Hj. Syamsiah Purwo Siswoyo, Penasehat PC Muslimat NU Cabang Nganjuk ). Amin
Sebuah catatan sederhana semoga bermanfaat !!
Penulis,
HM. BASORI, M.Si
Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy
Belum ada komentar