Kompetisi Pilkada kali ini benar benar sangat berbeda dengan yang lalu, karena rakyat begitu bahagia karena jumlah angpo yang di dapat sampai 3 amplop. Jika isinya yang dua 50.000 dan yang satu 100.000 sudah lumayan. Rakyat benar benar berfikir praktis dan tidak pernah mikir bagaimana uang tersebut di dapatkan oleh calon yang memberi.
Disamping itu rakyat tidak pernah berfikir bagaimana dampak dari money politik karena yang sering mereka dengar justru pejabat memainkan APBD yang berasal dari pajak dan retribusi yang mereka bayar. Rakyat mendengar Cerita bagaimana pejabat memainkan anggaran negara dan terkesan seperti berpesta pora , sehingga membuat rakyat ingin balas dendam saat ada Iven yang penyangkut pilih memilih, termasuk Pilkada.
Ketika pileg dan Pilkada rasa Pilkades jelas memiliki konsekwensi, artinya calon jadi pasti akan menggunakan kekuasaannya tahap pertama untuk mengambilkan modal. Tahap kedua bagaimana para tim sukses menikmati kopi gratis APBD sebagai imbalan perjuangan yang dilakukan. Rakyat pesta saat Pilkada, yang menang pesta saat menduduki jabatan.
Problematika di atas terjadi karena idiologi partai sudah tidak dipegang oleh para kader dan pengurus partai. Tergerusnya idiologi partai merubah pola pikir dan pola sikap kader dan pengurus. Disisi lain cost politik yang besar menjadi problem tersendiri dalam percaturan politik saat ini.
Dahulu Kita pernah mendengar dan mengetahui bagaimana sejarah idiologi politik pertama dibangun hingga menjadi idiologi politik dunia. Contoh saja faham Marxis dan sosialis. Dua faham itu dulu dibangun dengan bekerja keras untuk mengkonsolidasikan kaum buruh, Petani, pedagang dan kelompok pinggiran lainnya bagaimana mempengaruhi hingga merebut kekuasaan untuk mewujudkan pemerataan kesejahteraan rakyat. Mereka berjuang mempertaruhkan jiwa dan raga demi rakyat sejahtera. Maka lahirnya sebuah Isme (faham) politik yang dijadikan pedoman berpolitik di beberapa belahan dunia.
Namun Realita politik sekarang partai dan kader partai menjadikan idiologi mulia sebuah partai tersebut hanya menjadi slogan dan pajangan. Mereka gembar gembor memperjuangkan rakyat, mewujudkan kesejahteraan dan tidak akan KKN, ternyata yang terjadi sebaliknya. Runtuhnya idialisme kader partai dan pengurus partai merusak sendi sendi kehidupan berpolitik.
Perilaku politik kader yang lepas dari garis idiologi adalah malapetaka bagi rakyat dengan segala aspek kebutuhannya. Politik dipahami sebagai komoditas ( bahan dagangan ) yang semua bisa tawar menawan dan jual beli.
Masa depan sebuah bangsa dalam jurang kehancuran jika perilaku politik
Kader partai selalu berbicara untung rugi dan semua dijadikan uang. Maka ketika perilaku memyimpang tersebut terjadi kelangsungan bangsa dan negara akan terancam.
Kita semua rindu kehebatan para pejuang kita yang telah susah payah memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, sementara dalam mengisi kemerdekaan perilaku politik tokoh kita sudah tidak sejalan dengan idiologi politik yang benar. Kita butuh kepedulian orang yang mau belajar politik yang benar agar lahir kader partai yang militan dan memiliki loyalitas yang tinggi untuk kehidupan politik kedepan yang lebih baik !! Akankah bisa terwujud, semua kembali pada anda semua yang membaca catatan ini.
Jadikan dirimu sebagai bagian perubahan dari sebuah peradapan dunia, agar anda memili legacy yang akan selalu dikenang sepanjang dunia ini masih ada
Penulis
HM. BASORI, M.Si
Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocacy
Belum ada komentar